Free Banana Dancing ani Cursors at www.totallyfreecursors.com
Bani Menulis dan Bercerita: Karena Wanita

Selasa, 23 Desember 2008

Karena Wanita


“Seorang ibu ibarat sekolah, apabila kamu siapkan dengan baik, berarti kamu menyiapkan satu bangsa yang harum namanya”

“Di balik keberhasilan setiap pembesar ada wanita!”

Telah lama sebenarnya kalimat bijak ini bermain-main di kepala saya. Seberapa kuatkah, seberapa sabarkah seorang wanita sehingga memiliki energi yang sangat dahsyat untuk mendampingi para pahlawan dan orang-besar? Dan seberapa kuatnya perempuan hingga mampu mengharumkan nama sebuah bangsa?

Kita mengetahui bahwa wanita adalah ibu, saudara perempuan, istri, atau anak perempuan. Jika keempat status itu dihimpun oleh seorang wanita, maka manusia manakah yang lebih mulia daripadanya? Karena kedudukannya yang terhormat, tanggung jawab besar yang dipikulnya ini, baik di dalam maupun di luar rumah, sampai pada peluang-peluang yang diberikan kepada wanita agar mampu berpartisipasi secara sungguh-sungguh dan bermanfaat di dalam masyarakat, maka perlu ada sebuah diskursus menarik tentang peran wanita dalam membangun sebuah bangsa. Wanita dengan segala keunikannya mampu menjadi daya tarik tersendiri sehingga perannya sangat besar dalam membangun sebuah Negara.

Wanita diciptakan dengan kelembutan perasaan, kesetiaan, cinta, dan kasih sayang. Anis Matta dalam bukunya “Mencari Pahlawan Indonesia” bahkan mengatakan bahwa perempuan, bagi banyak pahlawan adalah penyangga spiritual, sandaran emosional; dari sana mereka mendapatkan ketenangan dan gairah, kenyamanan dan keberanian, keamanan dan kekuatan. Bagi para pahlawan, selalu ada dua wanita agung dalam hidupnya, bisa satu atau keduanya, yaitu ibu dan atau istrinya.

Wanita adalah setengah masyarakat. Jika kaum wanita tidak berfungsi berarti separuh kehidupan manusia tidak berfungsi dengan melahirkan generasi yang cemerlang atau tidak berfungsi dari berpartisipasi dalam membangun masyarakat, baik dalam bidang sosial maupun politik. Namun, hal itu tidak menafikan tidak berfungsinya "setengah yang lain" (kaum laki-laki) sampai ke tingkat yang cukup memprihatinkan.

Manusia, baik dahulu maupun sekarang, terbagi menjadi dua kelompok. Pertama, kelompok yang pro dan berbaik sangka terhadap wanita. Kedua, kelompok yang menjadi musuh wanita. Karena itu, seorang pujangga pernah berkata: “Kaum wanita itu bagaikan minyak kesturi yang diciptakan untuk kita setiap kita tentu senang mencium aromanya”. Tetapi ada pula pujangga yang berkata: “Kaum wanita itu bagaikan setan yang diciptakan untuk kita, kita berlindung kepada Allah dari kejahatan setan”.

Sepanjang sejarah, wanita selalu menjadi sorotan, karena pesona yang dimilikinya. Kita menemukan sebagian filosof mendukung keberadaan wanita, menyanjung, serta menyebut-nyebut kelebihan dan keutamaannya dalam keluarga atau masyarakat. Namun, ada juga mereka yang melihat kaum wanita lewat kacamata hitam pekat sehingga wanita dilihat bagaikan kuman penyakit dan kejahatan di dunia.

Jika kita lihat dalam terminologi Islam, istilah emansipasi tidak pernah dicetuskan. Karena apa? Karena tanpa menggembar gemborkan emansipasi pun, Islam sangat menghargai wanita. Dalam Alquran, Allah menyebut kata laki-laki dan perempuan sama banyaknya, yaitu sebanyak 24 kali. Perhatikan ayat-ayat berikut ini: "Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikit pun." (an-Nisa': 124). Atau "Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." (an-Nahl: 97). Ini hanya segelintir ayat yang bercerita tentang kedudukan wanita dalam Islam.

Kita juga bisa melihat bagaimana peran wanita muslimah pada masa Kerasulan. Wanita terlibat dalam bidang sosial, politik, dan profesi sesuai dengan kondisi serta kebutuhan hidup pada masa kerasulan. Dalam bidang sosial misalnya, wanita muslimah terlibat dalam beberapa bidang seperti kebudayaan, pendidikan, jasa/ pelayanan sosial, dan hiburan yang bersih. Dalam bidang politik, wanita muslimah memiliki keyakinan yang berbeda dengan keyakinan masyarakat dan pihak penguasa. Wanita muslimah menghadapi tekanan dan siksaan, kemudian dia berhijrah untuk membela dan menyelamatkan keyakinannya itu.

Di samping itu, wanita muslimah mempunyai perhatian dan rasa peduli terhadap urusan masyarakat umum, mengemukakan pendapat dalam berbagai isu politik, dan kadang-kadang bersikap oposisi dalam bidang politik. Sementara dalam bidang profesi, wanita ikut terlibat dalam bidang pertanian, peternakan, kerajinan tangan, administrasi, perawatan, pengobatan, kebersihan, dan pelayanan rumah tangga. Kegiatan tersebut membantu wanita mewujudkan dua hal. Pertama, mewujudkan kehidupan yang layak bagi diri dan keluarganya dalam keadaan suaminya sudah tiada, lemah, atau miskin. Kedua, mencapai kehidupan yang lebih mulia dan terhormat, sebab dengan hasil usahanya itu dia mampu bersedekah di jalan Allah. Lihat lah keterlibatan kaum wanita dalam menempati peran-peran tersebut. Beberapa diantaranya:
1. Nusaibah binti Kaab termasuk salah satu pemimpin kalangan kaumnya di Yatsrib. Beliau adalah satu dari dua wanita yang turut serta dalam baiah aqabah.
2. Di masa Umar bin Khattab, yang ditunjuk menjadi pengelola perdagangan wilayah adalah wanita
3. Ummul Baniin binti Abdul Aziz, istri khalifah Al Walid yang menjadi penasehat suaminya dalam menangani panglima militer yang keras (Al Hajjaj bin Yusuf Ats Tsaqofi)
4. Khaulah binti tsa'labah mengajukan gugatan kepada Rasulullah SAW ketika terjadi percekcokan dengan suaminya.
5. Zainab --istri Mas'ud-- bekerja dengan tangan sendiri dan memberi nafkah (belanja) untuk suami dan anak-anak yatim yang dipeliharanya.
6. Ummu Athiyyah ikut bersama suaminya dalam enam kali peperangan
7. Kaum wanita menuntut Rasulullah saw. supaya memberikan kesempatan belajar yang lebih luas lagi bagi mereka.
8. Asma binti Syakl mengenyampingkan rasa malu demi mendalami agama.

Masih banyak lagi kisah-kisah lainnya yang menceritakan bagaimana kaum wanita khususnya muslimah dalam mengaktualisasikan dan mengapresiasikan dirinya dalam membangun masyarakat.

Selain itu, kita juga membaca kepribadian tokoh-tokoh wanita lainnya. Seperti Ratu Bilqis yang diceritakan dalam AlQuran, bagaimana dia memimpin kerajaan yang luas dan kaya (An-Naml: 20-26), suka bermusyawarah dengan para petinggi negara (An-Naml: 27-33), memahami risiko yang terjadi dan kebijaksanaan politiknya (An-Naml: 34-40), cepat tanggap terhadap kebenaran
(An-Naml: 41-44).

Ada pula Dewi Sartika yang mempelopori Kongres Perempuan Indonesia untuk membangun sebuah gerakan penyadaran bagi para wanita di Indonesia agar memberikan sumbangsih bagi pembangunan negri. Dan tentu saja, RA Kartini, tokoh wanita yang legendaris dalam sejarah Indonesia. Bagaimana Kartini mampu menginspirasi kaum perempuan untuk keluar dari belenggu yang mengikatnya, karena masih saja ada masyrakat yang memarginalkan kaum wanita, yang menempatkan wanita pada posisi subordinasi.

Ayo perempuan, bangun kesadaran untuk mengejar ketertinggalan dengan memberdayakan diri di segala aspek kehidupan. Saya yakin, wanita Indonesia punya berjuta potensi membangun bangsa ini.
 



2 komentar:

Jamrud Khatulistiwa mengatakan...

Wanita adalah tiang agama. Itu lah peran wanita yg sangat berat,baik buruk nya agama tergantung baik buruk nya wanita.

gila^ontel mengatakan...

saat kecil, saya paling senang memandang ibu yang tertidur. Meski terlelap, dia begitu banyak bercerita. wajahnya seteduh cemara, sehyumnya adalah senja musim hujan. Begitu murni, polos, tanpa kebohongan.
Saat menginjak remaja, saya mengagumi sejumlah perempuan. Mereka memikat saya dengan pesonanya masing-masing yang unik. Bikin rindu, gundah, dan cemas menjadi satu. Hidup menjadi begitu berwarna karena kehadiran mereka. Inginnya selalu menghabiskan waktu bersama, saat fajar menjelang, saat purnama, saat mathari terbenam...
Saat dewasa, saya bertemu dengan perempuan tangguh yang kini melayani setiap kebutuhan saya sehari-hari. Dari mulai bangun tidur hingga tidur kembali. Ketangguhannya bikin nyali saya ciut. Saya melihat sendiri, bagaimana dia berjuang mempertaruhkan nyawa karena ingin memberi saya penerus dinasti Hasyim Ashari. Dia tegar saat sekitar 200 syarafnya putus karena melahirkan Bagas Kusuma wardhana.
Bagi saya..perempuan adalah ibu, kekasih, istri,...mereka adalah segala...
maju terus perempuan Indonesia..!!