Free Banana Dancing ani Cursors at www.totallyfreecursors.com
Bani Menulis dan Bercerita

Kamis, 22 Desember 2011

Selamat Hari Ibu

Ting ting.. ting ting (bukan ayu ting-ting loh ya)

HP gue bunyi ding! Tanda ada SMS masuk.

Gue buka, ternyata dari my hubby.

“Sekarang kan sudah jadi ibu, selamat hari ibu ya sayang.”

Wah, pagi-pagi, dah dapet SMS ucapan selamat hari ibu. Hmm, iya juga ya, gue kan sekarang dah jadi emak-emak, meskipun baru 30 hari. Hehe, yang penting judulnya “IBU”. Ya terlepas dari pro en kontra ttg hari ibu, apakah seperti mother’s day di Amerika, salah kaprah atau apapun namanya, gak masalah, yang penting ada moment untuk ngucapin, “Emak, I love U, selamat hari ibu “

Well, ibu memang sosok yang sangat hebat. Gue inget waktu melahirkan. Beneran antara hidup dan mati daahhh. En pernah juga ku posting tulisan tentang pengalamanku melahirkan, di “Episode melahirkan”.

Gue ma nyokap


yang ini ibu baru, baru 30 hari !


Kebetulan tadi pagi, gue sama nyokap nonton acara favorit keluarga kami, ISLAM ITU INDAH (Alasan yang sangat kuat kenapa kami suka, karena ustadznya orang BUGIS!, hehe…). Ada kata-kata yang menarik dari pembahasan tadi pagi, yaitu seputar ibu. Bahwa ketika melahirkan, kaki ibu berada diantara 2 tempat. Satu kaki di dunia, satu kaki di kuburan. Hiyy, rasanya merinding banget gue dengernya. Ya, memang antara hidup dan mati. Apalagi, denger adek ipar gue cerita, kalo ada keluarganya yang baru aja meninggal karena melahirkan. 


Bicara tentang ibu, dengan sangat Indah Allah lukiskan dalam AlQuran, :


“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan..” (QS. Al Ahqaaf: 15)


Di surah yang lain juga,


“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Ku lah kembalimu” (QS. Luqman : 14)


Lalu, kenapa Allah memberikan fitrah kehamilan, melahirkan, menyusui dan mengasuh anak kepada perempuan? Karena kaum perempuan memiliki fitrah sabar, mampu memikul kesulitan hamil, melahirkan dan menjadi ibu, merawat anak-anak, menyusui dan mengurus berbagai keperluan anak-anak. Juga karena proses hamil dan persalinan itu sangat berat dan tidak mungkin dipikul kecuali oleh kaum perempuan. Maka Rasulullah bersabda, “Ada 7 buah mati syahid selain mati dalam berperang di jalan Allah SWT…”salah satunya adalah “perempuan yang meninggal saat nifas atau melahirkan, maka ia mati syahid.” (Hadits)


Ya ya ya, sosok ibu memang sosok yang sangat luar biasa. Thanks mom, I love u full !

Jumat, 16 Desember 2011

Suami Weekend

Suka duka menjalani hidup berumah tangga itu seperti mencicipi permen nano-nano. Ya ada asem manisnya gituh. Tak terkecuali rumah tangga kami. Keluarga kecil yang memulai hidup barunya di awal Juli setahun silam.

Sewaktu awal-awal menikah, saya masih satu kota dengan suami. 7 bulan kemudian, beliau dipindahtugaskan ke Sambas, 100 km dari Singkawang. Sedih? So pasti dunk. Apa rasanya hidup berumahtangga tapi gak satu rumah dengan suami. Bayangan akan sepinya rumah dan hampanya hidup tanpa suami di sisi mulai menggerogoti pikiran dan akal saya. Ditambah lagi saya gak punya keluarga (dalam artian keluarga dekat).

Setelah saya inget-inget, ternyata banyak juga temen saya yang suaminya juga bergelar “Suami Weekend”. Gelar itu muncul tak lain karena “Suami Weekend” ini baru bisa berkumpul sama keluarga di akhir pekan. Karena alasan pekerjaan, si suami harus tinggal berjauhan dengan keluarga. Dan baru bisa pulang di hari sabtu dan minggu. Jadi inget lagunya Sandy yang judulnya “Sabtu Minggu”. Hehe…

Apa rasanya hidup berjauhan dengan suami? Dan bertemu sepekan sekali?

Di awal-awal sih, kangen terus. Apalagi usia pernikahan kami masih Batita. Rasanya, kebutuhan untuk terus bersama sangat kentara. Apalagi kalo pas dia lagi sakit atau gak enak badan dikit, bawaannya khawatir mulu. Setiap waktu telpon-telponan dan selalu SMS-an. Kangen denger suaranya, denger ceritanya, denger nyanyiannya, denger suara batuknya, dengerin bersin-nya (lho?? Hehe ).

Tapi, lama kelamaan jadi terbiasa juga. Terbiasa tanpa kehadirannya di rumah. Saya bersyukur masih bisa ketemu suami, walaupun gak setiap hari. Ya, hidup memang terasa bahagia kalo kita syukuri. Karena, ada juga teman saya yang suaminya tinggal di luar pulau! Hadduh, gak kebayang betapa sulitnya untuk bertemu sesering mungkin karena jaraknya yang cukup jauh, otomatis yang musti di pikirin adalah biaya untuk pulang pergi. Paling banter cuma bisa ketemu sebulan sekali, itupun udah paling cepet. Belum lagi kalo pas lagi banyak kerjaan di kantor. Bisa-bisa gak ada jadwal pulang walaupun sudah di agendakan.

Hm, meskipun berjauhan, ada tradisi yang tak pernah luput diantara kami. SMS di pagi hari. Sekedar menyapa dan menanyakan udah sarapan apa belum, udah berangkat kerja kah, atau udah mandi kah. Pokoknya nanyain apa aja deh. Trus, setiap hari pasti telpon-telponan sama si yayang. Dan setiap hari, saya selalu dengar cerita baru. So, apapun yang terjadi hari itu sama dia, saya tau detailnya. Kemana aja, trus sarapan pagi nya apa, makan siang lauknya apa. Ya, hal yang keliatan remeh temeh, tapi jadi hal yang bagi kami bisa jadi pelepas kangen, walaupun si yayang tidak berada di sisi. Kalo saya, always cerita tentang kejadian-kejadian sehari-hari di sekolah. Tentang murid yang gak ngerjain PR, trus di hukum sama guru disuruh masuk ke kelas-kelas sambil bilang, “Jangan tiru saya, saya ini anak malas”. Haha, itu mah keterlaluan juga kali. Hukuman mental yang lebih berat dibanding hukuman fisik. Tentang guru yang kerjaannya ngomongin orang mulu. Tentang kepala sekolah, en masih banyak lagi.

Well, intinya, sesibuk apapun, selalu sempatkan untuk sms or telponan sama pasangan kita. Karena, perhatian kita sangat berarti.

Senin, 12 Desember 2011

Jodohku


Lirik lagu ashanty dan anang

Yach, karena tadi pagi pas buka TV, duet mereka nampil di acara DERINGS, so, pengen aja aplot ini ke blog ku. hehehe...

* ku nafas di jiwamu
kau pantai di lautku
terpaut hati ini cinta yang suci
*courtesy of LirikLaguIndonesia.net
niatku sampai matimu
mencinta hanya dirimu
haus jiwaku padamu ku cinta

reff:
jodohku maunya ku dirimu
hingga mati ku ingin bersamamu, ini ikrarku
jodohku maunya ku dirimu
satu cinta hingga ajal memisah
aku dan kamu satu saling mencinta

repeat *
repeat reff

usai sudah sedihku sakitku
hidup kini milikmu

(jodohku maunya ku dirimu
satu saling mencinta)

jodohku maunya ku dirimu
hingga mati (hingga mati) ku ingin bersamamu (ooh)
jodohku maunya ku dirimu (dirimu)
satu cinta (satu cinta) hingga ajal memisah
aku dan kamu satu saling mencinta
saling mencinta, satu aku dan kamu

Source: http://liriklaguindonesia.net/anang-ashanty-jodohku.htm#ixzz1gIAFMFuA

Kamis, 08 Desember 2011

Episode Melahirkan

Ci luk baaaaaaa….

Taraaaaaaaaaaaaa

Hey pemirsa, hau ar yu? Semoga baek2 aje ye semue. Setelah hampir sebulan tidak membelai si cantik clara (nama leppie gue ye), kali ini, gue mau bercerita tentang episode melahirkan anak pertama gue.

Wokeh dey, gak banyak cincong, kita ikuti kronologis kejadiannya ya.



1 Nopember 2011

Jauh-jauh hari, mak oncet (baca: ibu bunting) ini udah jauh-jauh hari ambil cuti. Padahal HPL (Hari Perkiraan Lahirnya) nya tanggal 24 Nopember cuuyyy…. Hehe, masih jauh kaleee. Tapi, berhubung kakak-kakak gue yang diatas-atas ntu, ngelahirin anaknye pada maju semua dari HPL. Ada yang maju seminggu, ada yang 2 minggu, bahkan ampe ada yang maju 3 minggu. Karena sindrom itulah, akhirnya ngerasa hal itu bakalan terjadi juga sama gue. Tambahan lagi, nyokap nyuruh balik cepet-cepet ke Pontianak.

So pemirsa, ini adalah salah satu bentuk analisis yang sama sekali tak bisa dipertanggungjawabkan, karena hanya berpedoman pada asumsi dan pengalaman semata. Nama ilmu ini adalah ilmu keliru_mologi.
3 Nopember 2011

Perut gue mulai mules-mules. Kontraksi yang emang sering terjadi, tapi kali ini lebih sering. Trus gue cerita ma nyokap.

Gue : Mom, bani sakit perut nih. Gak biasanya nih kayak gini

Mami : ha?? Udah mau melahirkan kali.

Tebak nyokap dengan wajah dua rius.

Gue : tapi gak kayak mau beol siyy. Pan katenye kalo mau melahirkan ntu, kayak mau beol. Iya gak mam?

Mami : Ya, gak semua orang ngerasain kayak gitu kalo mau melahirkan. Ada juga yang sakit-sakit sebentar tiba-tiba udah brojol.

Gue : (Sambil berpikir keras, mengingat-ingat rasa sakit yang biasanya gue alamin)

Uhmm, kayaknya sakitnya sama aja deh dengan yang kemaren-kemaren.

Mami : Oh, belom lah. Kalo mau melahirkan itu rasanya beda. Sakitnya juga luar biasa. Pokoknya sakit lah

Gue : Mi, apa gak sebaiknya minta mbak buat belanja peralatan baby? Siapa tau aja ntar malem bani melahirkan.

Mami : langsung ngangguk en nyamperin HP dan langsung tersambung sama kakak pertama gue. Siangnya, ntu barang udah beres semua di beli. Baju, popok, bedong, sarung tangan, sarung kaki, dan kawan serta kerabat-kerabatnya sudah tertata manis di kamar gue.



Nah, langsung deh gue masukin baju, kain sarung, en beberapa baju baby ke dalam tas. Siapa tau aja pas sakit-sakit perut gitu mau lahiran, jadi udah siap sama tas nya. Tinggal landas ajaaaaahh…



Hari berganti hari. Perut yang semakin sering mengeras, buat gue cemas. Apa iya ntar malem bakalan melahirkan. Gue heran, kenapa ya tiap malem pikirannya mau melahirkaaannnn aja. Padahal gak ada sama sekali tanda-tanda yang luar biasa yang menandakan bakalan brojol. Tiap gue ngeluh sakit, nyokap deh yang mulai kelimpungan. Takut gue brojol tapi gak ada yang nganter ke klinik katanya. Walhasil, tiada hari tanpa penjagaan ketat seisi rumah. Walo sepadat apapun jadwal manggung bokap ma nyokap, baek kondangan, atau jadwal show bokap yang penuh, teteup harus ada yang jaga dirumah,entah mbak atau adek gue yang standby dirumah.



Uhm…. Baidewey enibaswey, sebelum waktunya tiba, gue udah survey kesana kemari, dan ini beberapa alternative tempat buat ngbrojolin si jabang beibeehh.



Alternatif 1: Di Puskesmas 24 jam. Gue pernah 1 kali periksa kesana. Trus ditawarin buat ngelahirin disana, nama programnya Jampersal. Tiap ibu hamil dapet jaminan persalinan dari pemerintah. Biaya persalinan Rp 0, alias gratis.

Alternatif 2 : Rumah sakit bersalin Harapan Bunda. Jauh sebelum gue cuti, kami memang berencana buat ngelahirin disono. Tapi, karena baru turun gunung, gue baru tau kalo ntu rumah sakit udah pindah ke ujung kulon sono. Gak tanggung-tanggung, pindahnya ke A.Yani 2 mennnnn. Gubraaakkk.. mau berapa puluh kilo jaraknya dari rumah gue yak.. biayanya 1 jeti lebih deh. Yang pasti gak kurang dari itu.

Alternatif 3: Klinik deket rumah. Uhm, rasanya ini pilihan paling logis dan paling wueeenak. Soale, gue udah cek ‘n ricek tempatnya, bidan-bidannya sekalian, sama biayanya. Kelas 1 850 rebu tanpa infus. Kalo tambah infus, kurang lebih 1 jeti juga (lebih kurang suka rela deyy).



Yah, begitulah pemirsa. Hari-hari kulalui dengan kecemasan ntar malem atau besok subuh atau besok malemnya, atau besok besok besol subuhnya bakalan melahirkan. Ditambah nyokap yang terus-terusan mengeluarkan pernyataan, “ntar malem ya dek keluarnya, Ummi nya udah mau liat dedek tuh”, sambil tangannya mengelus-elus perutku. Gue heran, kok nyokap sih yang paling bersemangat kalo gue melahirkan. Menanti kelahiran cucu ke – 7 mungkin impiannya kali ya. Soale kata nyokap, beliau tuh paling gak berani mendampingi orang mau lahiran. Mungkin inilah yang dinamakan cemas pangkat 10. Baru pangkat sepuluh kok, nol nya cuma atu.



Desiunggg…. Ibarat kan film, adegan di percepat sampai lah hari-hari yang dinanti itu tiba



22 Nopember 2011

03.30 : Gue bangun, trus wudhu dan shalat tahajjud. Selesai sholat, gue ngerasa ada yang ngerembes di CD gue. Langsung ngibrit ke kamar mandi dan jreeeeeeeeeengggg…. Oi pemirsa. Merahhh cynnnn. Darah campur lendirrr. Langsung ngetok pintu nyokap.

Gue : mi, keluar darah mi..

Mami : Freeze motion. Wajah tegang. Ada sakit-sakit gak perutnya?

Gue : gak ada

Mami : oh, belomlah kali. Tapi, periksa ke klinik aja sono. Siapa tau tiba disana langsung brojol.

Gue : aih.. ada kali nya lagi. Ya iyalah, wong gak ada yang bisa memperkirakan kok, kapan kita bakal melahirkan. Semua itu hak prerogratif yang di atas. Alias hak paten nya Allah. Bukan dokter, bu bidan, dukun beranak, ato ortu kite.

Gue : Tapi mi, ntar kesana malah disuruh pulang lagi. Siapa tau aja belum ada pembukaan. Mungkin aja kan, darah itu keluar karena kecapean gara-gara kemaren sore jalan-jalan ke mall. Pemberitauan sodara-sodara, karena selama bunting, gak pernah dibolehin jalan-jalan keluar melihat dunia luas kayak mega mall, disebabkan oleh jalan yang banyak bikin sengsara kalo dilewatin, makanya pas suami udah ambil cuti per tanggal 20 Nopember, besoknya gue minta anter jalan-jalan keliling mall. Gila aja yah, kayak orang udik aja gue, gak pernah liat mall.



My hubby yang udah siap mau turun ke mesjid sholat subuh, ku kabarin soal darah. Trus, setelah rapat di meja petak, akhirnya suami maksa buat ke klinik. Dengan mantap Insya Allah, masih sempet, yakin banget dahhh, berangkatnya abis yayang selesai sholat subuh aja.



Selesai sholat subuh, kusiapin tas dan ganti baju. Jam 5 kami berangkat dari rumah. Sebelum turun, mami pesen untuk yang ke 1000 kalinya, supaya gue gausah tereak-tereak kayak kesurupan kalo pas lahiran. Soalnya, menurut pengalaman beliau dari cerita-cerita yang bersambung dari mulut ke mulut, ada ibu-ibu yang tereak-tereak gak pake sopan santun, sumpah serapah bahkan jelek-jelekin laki nya sendiri pas brojolan. Ya ya ya, kucatet itu baik-baik di memori sadar dan bawah sadarkyuuuu….



Dalam perjalanan, gue sama suami malah canda-candaan di motor sambil menikmati udara segar. Jalannya juga slow motion gitu dey. Soalnya ntu jalan raya masih dalam perbaikan. Batu segede-gede kelapa masih aja bergerilya siang malem. Heran gue, kapan selesainya nih proyek jalan yak.



Wuihh, akhirnya nyampe juga ke tempat tujuan. Eh, kliniknya tutup. Trus suami nyoba buka tu pagar. Ternyata gak terkunci. Di depan pintu, kami ngintip-ngintip ke dalem. Gak ada bidan yang jaga. Apalagi satpam! Setelah celingak-celinguk gak jelas, eh ada keliatan nongol tuh pencetan bel. Yaudah, langsung deh kupencet sedikit 3 x. muncullah 2 mbak-mbak yang kutaksir adalah bidan disitu, dengan muka lecek, rambut masih kriwel2 sambil nguap-nguap dan ngucek2 mata. Sambil bukain kami pintu. Langsung deh gue ceritain soal darah dan lendir.



Gue langsung digiring menuju pembaringan. Eh, disuruh buka CD nya dulu ding! Soalnya mbak bidan mau periksa veggie. Pas gue baring, muka gue mulai tegang deh, apalagi pas tangan bidan masuk ke dalam miss V. auuhhh.. reflek aja gue tegang. Sampai bidannya bilang gini, “Ibu, jangan di kerasin, lemes aja, ini mau diperiksa dulu udah pembukaan berapa”. Untuk beberapa saat,gue ngebayangin sedang berada di atas awan, ngebayangin hal-hal yang indah, sambil merem-merem gituh. Lumayan efektif.



Pembukaan 4. Haa?? Ternyata udah pembukaan 4 pemirsa. Trus mbak bidan bilang, gue tinggal aja di klinik, gausah pulang. Kata mbak bidan, normalnya tiap pembukaan berselang 1 jam. Artinya, dari pembukaan 4 ke pembukaan lengkap, masih butuh waktu 6 jam. Artinya, sekitar bada zuhur, gue bakal lahiran .



Dalam ati seneng juga, akhirnya sampai juga waktu yang dinanti-nanti. Ayangku yang selalu setia menemani, tanpa sedetik pun berpaling dari menjagaku, ampe mau makan siang aja kularang, kubilang biar ayah aja yang bawain dari rumah. Demi melihat wajahku yang memelas kayak anak kecil minta duit jajan, suamiku pun mengiyakan. Pokoke dari prosesi awal tanda-tanda melahirkan ampe nge-brojol si jabang beibehh, yayangku gak pernah ninggalin barang sedetikpun, kecuali mau pipis en mau mandi. Qiqiqiqi



Ditengah-tengah dan tepi-tepi serta atap-atap penantianku menuju pembukaan berikutnya, gue agak ketar-ketir juga. Inget TTM gue, alias temen tapi musuh (huahaha.. ada gak siyy) yang always cerita yang serem-serem tentang melahirkan. Tentang baby yang keminum air ketuban lah, bayi yang terlilit tali pusar, yang pantatnya dulu brojol, yang tangannya keluar duluan, yang kelamaan di mulut rahim ampe meninggall…hiyyy, yang salto ampe jumpalitan.. hedeewwwhhh.. capcay dey. Kenapa juga sih, ada orang yang gak support banget kalo kita mau lahiran begini. Tapi, daripade gue inget yang gituan, kubongkar tas ku dan taraaaaaaa… keluarlah 2 novel yang baru ku beli kemaren di mall.



Kubaca-baca ampe suamiku ngantuk-ngantuk nungguin gue. Heleh-heleh…. Ampe jam 9 pagi, rasa mules-mules kayak mau boker gak muncul-muncul. Padahal tiap jam, mbak bidan dengan setia mengecek kondisi gue dan kondisi jantung janin. Siang abis sholat zuhur, gue tiduran di atas dada suami tercinta. Deuhh, romantis euy. Ampe gak sadar, mbak bidan ngetok-ngetok pintu buat cek ‘n ricek kondisi terkini gue.



Hm, kejadian ini berlangsung terus ampe jam 4 sore. Perasaan mules-mules pengen boker gak juga muncul-muncul. Bahkan, saban waktu nyokap nelponin melulu, apa udah lahiran gituhh. Ampe males deh kalo denger HP berdering dan di layar tertulis “My Mom” . dengan santay nya, selalu kujawab, “Belum Mammm”. Beneran dah, kayaknya yang paling menanti kelahiran anak gue adalah nyokap.



Menjelang jam 5 sore, pas makan, gue ngerasa mules yang sangat, ampe-ampe gak mampu buat nelen tiap suapan dari sang suami. Gak napsong makan nasi berlauk ati ayam en kuah sop. Tapi dipaksain juga, demi baby nya, supaya pas lahiran nanti punya tenaga buat mengedan… tapi, Ujug-ujug, nelpon nyokap juga buat bawain sambel udang. Begitu bonyok nyampe, langsung deh ku embat ntu makanan. Tapi eh tetapi, baru satu sendok, makanan yang sudah susah payah masuk ke dalam lambung, kini keluar dengan suka rela, dan bergelimpangan di lantai. Hu hu hu, asli perutku jadi berasa kosong melompong persis harimau ompong. Sakitnya sangat-sangat sakit. Kata nyokap, kalo sakitnya dateng, pegangan aja ke kursi kayak mau ngangkat kursinya.



Tiap gue ngeluh sakit ke nyokap, selalu dijawab, “Ya begitulah nak, yang namanya melahirkan gak ada yang enak, emang sakit kayak gitu. Sabar aja, begitulah perjuangan seorang ibu, nikmati saja” Jawab nyokap diplomatis

Dan sodara-sodara, kini perutku semakin sering kontraksi, awalnya tiap 5 menit, ampe akhirnya dalam hitungan detik!! Dan itu dimulai sejak pukul 5 sore. Mbak bidan semakin sering mendampingiku. Pas maghrib, gue masih bisa shalat meskipun tidak normal (maksudnya shalatnya duduk, cinn).



Selesai sholat, udah gak nahan. So, disuruh baring-baring en istirahat sama mbak bidan. Sejak saat itu, mbak bidan gak pernah ninggalin gue, selalu dipantaunya kondisi eyke punya peyut. Tapi anehnya, tiap sakit itu datang, mata gue seger banget. Giliran sakitnya ngilang, bawaannya ngantuuuuk ajah. Ampe kubilang sama mbak bidan, “Mbak, saya ngantuk”.. “Iya, dibawa tidur jak bu”, jawab mbak bidan kalem.



Jam 18.30, gue diminta ke ruang bersalin. Di papah sama yayang tersayang, en mbak bidan, gue menuju ruang eksekusi. Pas di periksa, pembukaan 7. Gue disuruh baring miring ke kiri, sambil latian ambil napas lewat hidung dan hembuskan lewat mulut (ya iyalah, masa lewat ketek… ahiak-ahiak).



Pembukaan Sembilan. Gue mengedan duluan sebelum ada instruksi dari mbak bidan. Gue bilang, mbakkkk.. sa.. yaaa.. maa uu beolllllllll.. seingat gue disitu ada 5 mbak-mbak bidan.

Bidan 1 : Belum bu, tarik nafaass, hembuskan lewat mulut. Tarik lagi ..hembuskan

Ku ikuti semua perintah nya, tanpa protes. Padahal, kayaknya si baby udah pengen keluar aja niy.

Gue mengedan ampe 3 x tanpa ada instruksi sekalipun dari mbak bidan. Sampe akhirnya, dimulai drama 3 session



#Drama Session 1

Bidan 2 : Ayo bu, buka kakinya, angkat pahanya, iya, tuh rambutnya udah keliatan bu

Gue : (dengan wajah pasrah, mau senyum gak bisa), mbak perut saya saa saakitt….

Mami : bolak balik mondar-mandir, ampe salah masuk kamar orang

Suami : ayo sayang, kamu bisa, tuh, kepalanya udah keliatan. Ayo bunda, terus. Kepalanya di angkat sayang. Jangan pake suara, persis kayak mau buang aer. Iya sayang, teruss.. rapatkan giginya, matanya dibuka yang, gausah merem

Suami terus mengulangi instruksi yang diberikan bidan, walopun begitu, rasanya instruksi suami lebih punya taste..

Bidan 3 : ayo bu, berteran kayak mau buang air… ayo bu… iya pinter. Terus buuuu

Gue : (sekuat tenaga mengedan, tapi anehnya kok gue jadi amnesia caranya berteran kalo mau boker yak….. Akhirnya prosesi mengedan itu dibarengi dengan tarikan suara gue di leher, ampe kering rasanya tenggorokan. Konsentrasi terpecah dua, antara berteran dan tarikan suara di leher)

Bidan 4 ; Bu, saya bantu ya.

Tanpa ba bi bu, en nunggu jawaban dari gue, tiba2 mbak bidan udah naek jongkok di atas kepala gue. Di dorongnya sekuat tenaga perut gue menuju jalan lahir.

Dan, mengedan yang ke – 4 kalinya, akhirnya pemirsa, si jabang beibehh nongol dengan riang gembira yang ditandai dengan “ Owe….oweeeeeeee…owe…” tepat pada pukul 20.40 Waktu indonesia pontianak barat.



Wuuaahh, plooooooooonkkk rasanya. Semua orang, bokap, nyokap, mertua, adek ipar, en suami ngucapin hamdalah.



#Drama Session 2

Setelah baby nya dibersihkan, en lamat-lamat ku dengar suara adzan dan iqamah. Jelas sekali, sejelas matahari yang selalu terbit dari arah timur, kalo itu adalah suara ayahnya si baby. Antara sadar dan gak, ku rapalkan semua tasbih, tahmid, tahlil. Dan samar-samar kuliat, si baby juga udah di tahnik. Kupikir, setelah lahiran, tinggal bersihin badan, en masuk kamar. Ternyata, tembuni nya masih nyisa. Dimulai lagi deh, drama session 2. Perut gue di obok-obok, tapi saking sakitnya melahirkan, diobok-obok kayak gitu, rasanya cuma 10 % dari sakitnya melahirkan. Tapi, gue pasrah ajah. Di balik tirai, semua sibuk, sms-an, telp2an, en ber BBM ria atas kelahiran putri pertama kami. Eleh –eleh, gue yang ngelahirin di tinggal gitu aja dengan segala penderitaan bersama para peng-eksekusi 4 bidan di depan gue. Ya sutraslah, mereka pasti juga pengen seluruh dunia tau, telah lahir anak, cucu, ponakan dengan selamat sentosa, sehat wal’afiat, damai sejahtera, bahagia en ceria.



#Drama Session 3

Kali ini, perkiraanku meleset lagi, ternyata, masih ada satu tahap lagi sebelum gue digiring ke ruang peristirahatan. Ternyata, pas mau lahiran, veggi di gunting!! Wadoww, beneran gue gatau! Tiba-tiba aja terasa ada jarum en benang yang melewati kulit si miss V nya. Mungkin krn sakitnya melahirkan, jadi gak berasa deh guntingan nya. Akhirnya selesai lah sudah. Dimana-mana ada darah. Merah. Setelah bersih-bersih, ganti kain sarung en baju, gue di bawa ke kamar supaya bisa cepat beristirahat.



Besoknya, setelah agak pulih kondisiku, para ponakan nelponin, pada pengen liat sepupu baru mereka. Anggota keluarga baru bagi keluarga besar kami. Salah satu ponakan nanya, “Amah, gimana rasanya melahirkan?”. Dan dengan santay tanpa beban ku jawab, “Uhm, nikmat, ueenaakk, macem-macem rasanya, ada rasa strawberry, coklat, vanilla..”. wkwkw…



Haddoohhh, bosen ye cuy? Setelah tulisan gue yang memanjang, melebar dan meluas . (inget MTK, panjang x lebar = luas ), yang memakan kertas Quarto 6 halaman, ukuran 1 spasi, font Calibri. Hehehehe…..



En ternyata, melahirkan itu nikmat, Jenderal !

Wassalam..

Rabu, 16 November 2011

9 Bulan Ini


9 Bulan Ini

Wuaa.. kandunganku sudah 9 bulan pemirsa. Gerakan si dedek sudah sangat semakin terasa. Perutku belok sana sini !! hehe,,, rasanya begitu menakjubkan. Tiap hari, aku elus-elus perutku sambil ku ajak ngobrol tentang apa ajah. Saat-saat aktif si dedek bergerak adalah di subuh hari en sore menjelang malam hari. Aku suka perhatikan perutku sendiri. Soalnya berasa lucu ajah, perutku bergoyang seperti ombak di lautan. Kadang nonjol gitu kayak benjolan guedeee. Trus, biasanya abis itu mengeras. Kalo udah mengeras dan kram, rasanya gak bisa ngapa-ngapain. Subhanallah, perjuangan seorang ibu. Ternyata, rasanya hamil sampai 9 bulan itu begini ya.


Sudah 2 minggu ini aku di Pontianak, dalam rangka cuti melahirkan. 3 minggu sebelum tanggal perkiraan melahirkan, aku udah cuti duluan. Emang sih, kata kawan-kawan terlalu cepet ambil cuti. Katanya sayang waktunya. Seharusnya pas deket-deket mau melahirkan, baru ngurusin cuti. So, punya banyak waktu buat ngurus si dedek kalo udah lahir. Tapiiii… di usia kandunganku yang sudah 8 bulan 3 minggu itu, aku semakin sering merasakan kontraksi. Tapi, bukan kontraksi mau melahirkan lho. Cuma kontraksi biasa aja. Isitilah kerennya tuh Braxton Hicks, alias kontraksi (his) palsu. Terlebih, aku ke sekolah naik motor sendiri. Karena suamiku kan tugasnya di luar kota. So, gak bisa tiap hari nganterin dunk. Pas libur ajah, atau curi-curi waktu buat pulang. Hehe..


Dalam sehari, bisa puluhan kali aku mengalami his palsu ini. Apalagi, pas aku naek taksi mau pulang ke Pontianak. Sepanjang perjalanan singkawang-pontianak, ada 5 jembatan yang sedang dalam proses perbaikan. Jadilah, aku harus menempuh perjalanan selama 5 jam. Mana jalanannya bergelombang, akibatnya, aku semakin sering kontraksi. Dan jeda antara kontraksi satu dengan yang berikutnya juga gak teratur, kadang 5 menit sekali, kadang 10 menit sekali, kadang juga 20 menit sekali. Kalo pas lagi capek-capeknya abis jalan kaki, bisa 2 menit sekali!! Aku sempet beberapa kali menghitung waktu lamanya kontraksi, kadang ada 1 menit, kadang juga ada yang 2 menit. Gak ngerti juga deh kenapa bisa begitu.


Besok, aku mau periksa ke dokter lagi. Buku KIA – ku sudah penuh. Hehe, abisnya tiap bulan pasti periksa, atau tiap ada keluhan aku langsung ke dokter.


Hm, banyak yang menyarankan supaya aku rajin-rajin jalan kaki en ngepel lantai. Tujuannya supaya proses persalinannya lancar. Dan Alhamdulillah, hal itu juga jadi rutinitasku selama cuti ini. Tiap pagi, aku jalan ditemenin sama ayah. Soal ngepel lantai? Hehe, gak tiap hari sih, paling lah 3 kali seminggu. Dan yang pastinya, mami yang paling seneng, karena rumah jadi bersih en kinclong. Hihi…


Menurut dokter, HPL nya tanggal 24 November ini. Artinya sekitar 9 hari lagi. Kalo ditanya nervous atau gak, sebenarnya dari hamil 7 bulan aku juga udah nervous duluan, kalo mikirin gimana nanti melahirkan. Tapi, sekarang aku udah terbiasa dengan perasaan nervous itu. So, biasa aja nih. Tapi, gak tau deh, kalo udah muncul tanda-tanda melahirkan, trus masuk ke ruang persalinan, apa bisa ya ngerasa rileks aja gituh? Semoga aja. Mohon doanya ya, temans.

Jumat, 11 November 2011

Buah Kebaikan


Buah Kebaikan

Suatu hari, saya nebeng pulang dengan seorang teman. Dalam perjalanan pulang, tas kami yang digantung di motor terjatuh di tengah jalan raya. Kontan saja, kami kaget dan segera menepi untuk mengamankan tas. Saat itu suasana ramai dan tak pernah sepi dari kendaraan yang lalu lalang dengan kekuatan penuh. Teman saya ini pun berjalan menuju arah tas. Karena takut dengan kendaraan yang melaju kencang, teman saya menunggu agak sepi, agak lama saya menunggu.

Tak lama, saya melihat ada mobil yang berhenti ditengah jalan, lalu keluarlah seorang bapak-bapak dan mengambil tas teman saya itu yang tepat berada di depan mobilnya. Sambil tersenyum, si bapak menyerahkan tas yang diambilnya tadi. Padahal, motor dan mobil di belakangnya jadi berhenti juga karena terhalang oleh mobil si bapak.



Sepanjang jalan saya berpikir, dijaman sekarang orang lebih banyak apatis. Apalagi hanya sekedar mengambilkan tas yang jatuh ditengah jalan, si bapak sampai rela menghentikan laju kendaraannya. Tapi, orang baik selalu mendapatkan balasan yang baik. Kenapa saya katakan begitu? Teman yang membonceng saya ini, adalah orang baik. Itu kesimpulan saya. Tak pernah ia menyakiti hati saya, dan rasanya juga tidak pernah berniat menyakiti hati orang lain dengan ucapan-ucapan dan tingkah lakunya. Bicaranya begitu santun, setiap hari selalu menebar senyum. Tak pernah melalaikan tugas, dan selalu berusaha membantu kami jika kami butuh bantuan.

Saya ingat, pernah suatu hari saya sedang asyik mengetik di layar komputer. Kondisi badan sedang tidak fit, sepanjang hari batuk-batuk terus. Lalu, dia menghampiri saya dan menawarkan obat batuk yang dia beli kemarin, tapi baru dipakai 1 kali. Saya pun mengiyakan. Tak saya sangka-sangka, malam harinya dia datang ke kost saya dan membawa obat batuk itu. Ah, saya ngerasa diperhatikan. Hm, begitulah, kebaikan akan selalu berbuah kebaikan. Begitu pula sebaliknya.

So, menjadi pribadi yang baik, insyaAllah kebaikan akan datang menghampiri kita
^_^


Rabu, 10 Agustus 2011

Mengajar Memang Butuh Keterampilan


Mengajar Memang Butuh Keterampilan

Kalaulah kita saat ini sudah sarjana, pastilah kita telah melewati waktu selama 12 tahun duduk di bangku sekolah. Sekolah Dasar (6tahun), Sekolah Menengah Pertama (3 tahun), dan Sekolah Menengah Atas (3 tahun). Nah, selama belajar 12 tahun itu, kita pasti ingat betul siapa saja guru favorit kita. Biasanya, guru favorit itu, guru yang cantik atau ganteng (hehe…), guru yang lucu, baik hati, atau guru yang kalo ngasi tugas gak numpuk-numpuk. Dan satu lagi, guru favorit adalah guru yang mengajarnya enak dan pelajaran jadi gampang dimengerti, bahkan kita merindukan saat-saat pelajaran itu berlangsung.

Well, saya punya sederet nama untuk masuk dalam daftar nominasi guru favorit saya. Salah satunya guru matematika saya waktu SMA, Bu SUKINI ..(Semoga Allah memberkahi kehidupan beliau, Amin). Meskipun beliau hanya mengajar beberapa bulan saja, tapi saya lebih mengerti kalo diajarin sama dia dibanding sama guru yang lain. Apalagi, matematika itu menjadi momok bagi kebanyakan siswa.
Uhm, kebetulan saya ini juga guru Matematika. Terasa betul, memang butuh usaha keras dan terus menerus untuk menanamkan konsep matematika yang benar kepada siswa. Jadi, kalimat “Mengajar adalah Seni” tampaknya saya akui 100%, gak pake ragu deh. Hehehe…

Gak semua orang bisa mengajar. Buktinya, waktu sekolah dulu, gak semua guru adalah guru kesayangan saya. Ada juga guru yang saya gak suka. Biasanya karena perilakunya yang gak mencerminkan seorang guru. Merokok didalam kelas, duduk diatas meja, memberi tugas terus dan jarang mengajar.

Waktu kuliah, saya pernah belajar satu mata kuliah yang bagi saya sangat sulit, dan akhirnya memang saya harus menelan kesulitan itu dengan nilai D diakhir semester…(Hiks…). Yup, bukan hanya saya kok yang mengeluh begitu, karena rata-rata para mahasiswanya juga dapet D dan E. Haha,,, saya jadi bertanya-tanya, apakah memang kami ini bloon-bloon semua ya. Ataukah dosennya yang super duper pintar sampai-sampai, bahasa yang dia pakai tidak bisa kami tangkap dengan nalar kami. Oh, maafkan kami pak dosen… yang susah mengerti dengan kuliah bapak (padahal si dosen sudah menyiapkan buku dan alat yang lengkap untuk mengajar kami!)

So, kesimpulannya, tidak semua orang bisa mengajar. Karena mengajar itu butuh keterampilan khusus. Butuh seni. Seperti sebuah lagu yang dinyanyikan oleh beberapa orang. Tentu hasilnya berbeda, padahal liriknya sama.

Tadi pagi, saya berbincang dengan kepala sekolah. Kami diskusi seputar pembelajaran. Seputar PTK (Penelitian tindakan kelas) dan seni mengajar di dalam kelas. Saya acungkan jempol buat kepsek saya yang satu ini. Karena beliau tidak pernah berhenti untuk belajar banyak hal, meski usia sudah tidak muda lagi.

Saya kembali merenung. Saya sering berpikir, bagaimana caranya agar murid-murid saya mengerti dengan pelajaran yang saya berikan. Tidak semua siswa bisa menerima cara mengajar saya. Kalo dipersentasekan, mungkin hanya sekitar 20% murid saya yang bisa dan paham dengan apa yang saya ajar.

So, intinya saya harus cari cara yang pas untuk beberapa jenis tipe belajar dari masing2 orang. Karena gak semua orang bisa ngerti kalo saya ajarin hanya dengan satu cara. Well, ngomongin tentang dunia pendidikan emang gak ada habis-habisnya. Karena apa? Karena kita bekerja dan mengajar makhluk hidup, yang punya cita rasa, perasaan, dan punya pikiran yang cerdas. Bukan seperti pekerjaan lain, yang mungkin hanya berkutat dengan benda mati, dengan buku dan komputer, dengan penggaris dan alat ukurnya, atau dengan mesin dan teknologinya. Kita berhadapan dengan manusia, makhluk yang Allah ciptakan dengan segala kesempurnaan dan keunikannya.

By the way, beberapa kali saya mendapati siswa saya begitu antusias mendapat pelajaran dari saya. Bahkan, begitu bel berdering tanda pelajaran usai, mereka malah tereak2 minta PR. Hehe…
Setelah saya analisa (gak pake ilmiah ya..hehe), saya menyimpulkan keberhasilan itu berkat:
1. Sebelum berangkat ke sekolah, saya berdoa semoga murid-murid saya ngerti dengan pelajaran saya. Tak lupa saya doakan pula agar mereka kelak menjadi generasi penerus bangsa yang memiliki masa depan yang cerah.
2. Menanamkan pikiran positif, bahwa saya ke sekolah untuk memberi, bukan meminta. Memberi yang terbaik untuk anak didik saya
3. Saya berangkat ke sekolah dengan semangat mengajar yang tinggi
4. Saya menyiapkan segala perangkat pembelajaran dengan sebaik mungkin. Kalo pake powerpint, maka saya siapkan malam harinya, atau menggunakan alat peraga, atau worksheet untuk kerja kelompok

Uhmm.. tapi pemirsa, sayangnya ke-empat point tadi tidak selalu muncul setiap hari ketika saya berangkat ke sekolah. Karena saya orangnya ya moody gitu dey. Jadi, saya sedang berproses untuk terus memotivasi diri supaya bisa menjaga antusiasme dalam mengajar. Termasuk kebiasaan mendoakan siswa saya. Doakan ya saya berhasil dengan program saya kali ini. Hehe