Free Banana Dancing ani Cursors at www.totallyfreecursors.com
Bani Menulis dan Bercerita: Jadi istri Jurnalis? So What?

Minggu, 14 Desember 2008

Jadi istri Jurnalis? So What?

Dialog gak penting di Sinka Island Park

Sore itu, kami menikmati senja kota singkawang di balik bukit Sinka Island Park. Sambil berjalan di tepi pantai. Aku dan mbak iie’ menikmati hari-hari yang tersisa sebelum kembali pulang ke Pontianak. Setelah lelah bermain pasir dan nyariin kerang `n batu-batu unik di pantai, kami duduk di atas kursi. Ehm..... suasananya asik banget. Angin sepoi-sepoi, ditemani pemandangan sore yang cerah, sambil ngemil. Dan kami bicara tentang banyak hal.

B : mbak, pengen dapet suami kayak apa nanti?
K : aku sih gak muluk-muluk ya. Aku obsesinya dapetin bule
B : !@#$%^&&*&^%$#@!
Gubrak!! Cape deh. Gitu? Dibilang gak muluk-muluk? Dasar King Kong. Hehe
B : Oh gitu ya mbak. Gampang kok mbak. Ntar mba daftar jadi Indonesian Idol ajah. Kesempetan buat dapetin bule pasti lebih gede. Suara mbak kan keren kalo buat tereak-tereak kayak king kong. Hehehe..
K : Hu......dasar beruang. Dikau gimana, mau dapetin yang kayak gimana?
B : kalo aku mbak, obsesi dapetin suami berprofesi wartawan, redaktur, pimpinan redaktur. Atau kalo gak bisa, penulis, atau editor, pokoknya yang berkecimpung dalam media dan dunia tulis menulis juga boleh.
K : kok mau-maunya ama wartawan? Mereka sibuk loh. Emangnya dikau siap ditinggal pergi. Secara kerja mereka itu kan dilapangan terus. Gimana kalo pas kita butuh dia. Kan susah. Mending gak usah deh. Lagian wartawan itu dipertanyakan sholatnya. Bayangin aja, kerja di lapangan kan gak kenal waktu. Emang udah siap dengan konsekuensinya
Jelasnya panjang lebar.
Saya tercenung. Lama saya merenung.
B : Gitu ya mbak. Iya juga sih. Tapi kan gak semua jurnalis begitu mbak
Ya, membela diri sambil nyiapin argumentasi yang masuk akal.
K : Emang gak semua begitu. Tapi rata-rata ya gitu. Aku kan banyak juga temen yang jadi wartawan. Yang dulunya sholeh, sholat tepat waktu, karena tuntutan pekerjaan, akhirnya jadi suka molor-molor kalo adzan sholat. Alasannya banyak kerjaan lah. Ngejar deadline lah.
Saya mencerna kalimat si King Kong. Ada benarnya juga. Tapi banyak salahnya. Hehe....(duh segitunya, saking pengennya biar menang debat ama dia).
B : Makanya mbak, seharusnya kita sebagai istri bisa menyeimbangkan sekaligus menyemangati dia untuk terus memperbaiki diri. Islam kan tidak mempersulit. Kalo emang bener-bener gak bisa di tunda pekerjaannya, ada rukhsoh (keringanan) buat sholat kita yang gak bisa tepat waktu kan??
K : iya, kalo udah keseringan, itu beda cerita non! Dasar beruang! Eh, ngomong-ngomong, kenapa suka ama wartawan gitu?
B : Hehe, mungkin karena aku musti mengubur cita-citaku untuk menjadi wartawan. Jadi, minimal bisa dapet suami wartawan. Gitu mbak.
Jawabku iseng.
B :Trus, jurnalis itu cerdas. Mampu menganalisa kondisi. Punya banyak kenalan. Kalo di ajak ngobrol tentang kekinian, pastinya nyambung. Aku rasa, akan sangat menyenangkan bisa diskusi tentang banyak hal.
K : Yaelah….kalo cuma itu, gak perlu jurnalis kali. Yang laen juga banyak kok.
B : ihh….dasar King Kong!!

Lalu, kami tertawa bersama.

Uhm, izinkan saya mem-posting sebuah tulisan dari seorang istri jurnalis. Saya copy paste dari milis pantau-komunitas. Mungkin bisa jadi pencerahan buat yang akan dan sudah menjadi istri jurnalis. Hehe........

Satu kisah Cinta Biasa
Suami saya adalah seorang jurnalis, saya mencintai sifatnya yang spontan dan saya menyukai perasaan hangat yang muncul dihati saya ketika bersandar dibahunya. 3 tahun dalam masa perkenalan dan 2 tahun dalam masa pernikahan, saya harus akui, bahwa saya mulai merasa letih...lelah, alasan-alasan saya mencintainya dulu telah berubah menjadi sesuatu yang menjemukan.
Saya seorang wanita yang sentimental dan benar-benar sensitif serta berperasaan halus. Saya merindui saat-saat romantis seperti seorang anak kecil yang sentiasa mengharapkan belaian ayah dan ibunya. Tetapi, semua itu tidak pernah saya peroleh. Suami saya jauh berbeda dari yang saya harapkan. Rasa sensitifnya kurang. Dan ketidakmampuannya dalam menciptakan suasana yang romantis dalam perkawinan kami telah mematahkan semua harapan saya terhadap cinta yang ideal.
Suatu hari, saya beranikan diri untuk mengatakan keputusan saya kepadanya, bahwa saya menginginkan penceraian. "Mengapa?"Dia bertanya dengan nada terkejut. "dinda letih, Abang tidak pernah mencoba memberikan cinta yang dinda inginkan." Dia diam dan termenung sepanjang malam di depan komputernya, nampak seolah-olah sedang mengerjakan sesuatu, padahal tidak. Kekecewaan saya semakin bertambah, seorang lelaki yang tidak dapat mengekspresikan perasaannya, apalagi yang bisa saya harapkan darinya?
Dan akhirnya dia bertanya. "Apa yang bisa Abang lakukan untuk mengubah fikiran dinda?"
Saya menatap matanya dalam-dalam dan menjawab dengan perlahan.
"dinda ada 1 pertanyaan, kalau Abang menemukan jawabannya didalam hati dinda maka dinda akan mengubah fikiran dinda; Seandainya,dinda menyukai sekuntum bunga cantik yang ada ditebing gunung dan kita berdua tahu jika Abang memanjat gunung-gunung itu, Abang akan mati. Apakah yang Abang akan lakukan untuk dinda?"
Dia termenung dan akhirnya berkata, "Abang akan memberikan jawabannya esok."
Hati saya terus gundah mendengar responnya itu. Keesokan paginya, dia tidak ada di rumah, dan saya menemukan selembar kertas dibawah sebuah gelas yang berisi susu hangat yang bertuliskan. .. ”Sayangku, Abang tidak akan mengambil bunga itu untukmu, tetapi izinkan Abang untuk menjelaskan alasannya." Kalimat pertama itu menghancurkan hati saya. Namun, saya masih terus ingin membacanya. "dinda boleh mengetik dikomputer dan selalu mengusik program didalamnya dan akhirnya menangis di depan monitor, Abang harus memberikan jari-jari Abang untuk membantu dinda memperbaiki program tersebut." "dinda selalu lupa membawa kunci rumah ketika dinda keluar, dan Abang harus memberikan kaki Abang untuk menendang pintu, dan membuka pintu saat dinda pulang."

"dinda suka jalan-jalan di shopping center tetapi selalu tersesat bahkan ada saatnya tersesat di tempat-tempat baru yang dinda kunjungi, Abang harus mencari dinda dari satu tempat ke tempat yang lain untuk membawa dinda kembali ke rumah."

"dinda selalu pegal pegal sewaktu 'teman baik' dinda datang setiap bulan, dan Abang harus memberikan tangan Abang untuk memijit dan mengurut kaki dinda yang pegal itu."
"dinda lebih suka duduk di rumah, dan Abang selalu risau kalau kalau dinda menjadi Bosan. Dan Abang harus membelikan sesuatu yang dapat menghiburkan hati dinda dirumah atau meminjamkan lidah Abang untuk menceritakan hal-hal lucu yang Abang alami."
"dinda selalu menatap komputer, membaca buku dan itu tidak baik untuk kesehatan mata dinda, Abang harus menjaga mata Abang agar ketika kita tua nanti, abang dapat menolong mengguntingkan kuku dinda dan memandikan dinda."

"Tangan Abang akan memegang tangan dinda, membimbing menelusuri pantai, menikmati matahari pagi dan pasir yang indah. Menceritakan warna-warna bunga yang bersinar dan indah seperti cantiknya wajah dinda."
"Tetapi sayangku, Abang tidak akan mengambil bunga itu untuk mati. Karena, Abang tidak sanggup melihat airmatamu mengalir menangisi kematian Abang."

"Sayangku, Abang tahu, ada banyak orang yang mencintaimu lebih daripada cinta Abang kepada dinda."
"Untuk itu sayang, jika semua yang telah diberikan oleh tangan, kaki, mata Abang tidak cukup bagi dinda. Abang tidak akan menahan dinda mencari tangan, kaki dan mata lain yang dapat membahagiakan dinda."
Airmata saya jatuh ke atas tulisannya hingga membuat tintanya menjadi kabur, tetapi saya tetap berusaha untuk terus membacanya lagi. "Dan sekarang, dinda telah selesai membaca jawaban Abang. Jika dinda puas dengan semua jawaban ini, dan tetap menginginkan Abang tinggal di rumah ini, tolong bukakan pintu rumah kita, Abang sekarang sedang berdiri di luar sana menunggu jawaban dinda."

"Tetapi, jika dinda tidak puas, sayangku...biarkan Abang masuk untuk mengemaskan barang-barang Abang, dan Abang tidak akan menyulitkan hidup dinda. Percayalah, kebahagiaan Abang adalah bila dinda bahagia."
Saya tertegun. Segera saya memandang pintu yang sedang tertutup rapat. Lalu saya segera berlari membukakan pintu dan melihatnya berdiri di depan pintu dengan wajah gusar sambil tangannya memegang susu dan roti kesukaan saya. Oh! Kini saya tahu, tidak ada orang yang pernah mencintai saya lebih dari dia mencintai saya. Itulah cinta, di saat kita merasa cinta itu telah berangsur-angsur hilang dari hati kita karena kita merasa dia tidak dapat memberikan cinta dalam 'wujud' yang kita inginkan, maka cinta itu telah hadir dalam 'wujud' yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya
( berbagai sumber )
FARIZAL ALBONCELLI
NB : tuh kan, jurnalis/penulis, bisa memberikan kejutan yang tak terduga lewat ketajaman penanya. Hanya lewat surat, mampu mengekspresikan semua rasa yang ada.

 


 



2 komentar:

Siti mengatakan...

ciieee... amah bani ! yuk saya dukung deh niat mu frend . heeee

Ramdan mengatakan...

Plagiat neh, aku dah pernah dapat ini lama sekali di email, judul aslinya "Cinta Tidak Harus Berwujud Bunga"